Koleksi Barang Branded, Demi Gengsi Sekaligus Investasi?

Di era milenia ini, kebutuhan akan barang-barang branded rasanya semakin tinggi. Coba perhatikan, makin banyak perempuan sosialita yang memakai barang branded, dari tas, sepatu, jam tangan, busana dan sebagainya.

Pemandangan perempuan 'bening' menenteng tas berlabel Louis Vuitton, Gucci, Hermes, atau Chanel terasa sudah biasa. Bisa dipastikan  ketika memiliki barang-barang mahal tersebut, terselip rasa bangga. Tapi tahukah Anda, kini gaya hidup kaum sosialita tersebut tak lagi sekadar demi penampilan?

Ragam merek dari tas branded tersebut bisa menjadi satu investasi. Harga jual tas bisa naik sekitar 30 persen setiap tahunnya. Sementara, harga barang second bisa naik sekitar 20 persen dari harga beli lima tahun sebelumnya.

Mengoleksi tas sekaligus investasi menjadi kegemaran bagi selebriti dunia sekaliber Victoria Beckham. Penyanyi sekaligus desainer busana ini memang kerap tampil stylish dengan busana dan aksesori dari brand ternama dunia. 

Istri dari pesepak bola David Beckham ini bahkan rela menginvestasikan uangnya sekira Rp 23,7 miliar untuk sebuah tas Hermes bertabur berlian. Konon, tas tersebut khusus dibuatkan berdasarkan pesanannya, sehingga tak ada orang lain yang memiliki model tas serupa.

Victoria saat ini memiliki kurang lebih 100 buah tas Hermes Birkin. Salah satu di antaranya koleksi limited edition Birkin Himalaya yang juga kado spesial dari sang suami. Tas bertabur berlian senilai 80 ribu poundsterling ini hanya ada beberapa buah saja di dunia.

Gemar membeli tas branded sekaligus berinvestasi juga melekat pada gaya hidup selebritis Nadya Mulya. Aktris dan presenter televisi ini kerap menabung cukup lama untuk membeli salah satu tasnya. "Saya memang koleksi tas bermerek dan juga sepatu," kata Nadya.

Menurutnya, tak masalah membeli barang mahal lantaran pada akhirnya bisa menghasilkan. Misalnya, tas dan sepatu mahal yang ia beli bisa dipakai untuk bekerja dan memberikan penghasilan.

Nadya sadar betul harga tas bermerek, mulai dari Chanel, Louis Vuitton, hingga Hermes yang menjadi favoritnya, bisa mengalami kenaikan hingga 10 persen tiap tahun. Karena itu, model tas klasik selalu menjadi favoritnya. 

Tas bergaya klasik tergolong timeless sehingga modelnya tak lekang oleh waktu. Bagi Nadya, membeli tas dengan harga mahal sepadan dengan pekerjaan yang dimilikinya saat ini. Apalagi, kelak tas-tas tersebut juga bisa diwariskan pada putrinya.

Jadi jelas ya, kini pecinta tas atau barang mewah,  bukan hanya sekadar aksesoris pelengkap gaya belaka. Di balik itu semua, terdapat sebuah investasi dengan nilai yang sangat tinggi. 

Contohnya, Hermes Birkin dengan kulit buaya warna pink menjadi item paling mahal yang dijual di balai pelelangan Christie di Hong Kong seharga £146,000 atau Rp 2,3 miliar. Namun, angka tersebut tidak menjadikan Hermes Birkin sebagai tas termahal, karena predikat tersebut disabet oleh Hermes Himalayan Nilo Crocodile Birkin. Tas ini dilengkapi dengan 200 buah berlian 8,2 karat yang berhasil dilelang seharga £197,000 atau Rp 3,2 miliar.

Di Indonesia, penyanyi Syahrini menjadi salah satu sosialita yang gemar mengoleksi tas Hermes. Dalam berbagai video dan foto yang sering diunggahnya ke Instagram, ia sering memamerkan koleksi tas berharga ratusan hingga milyaran rupiah. Di salah satu video, penyanyi yang sering menyebut dirinya Princess ini juga terlihat mengenakan tas Hermes Himalayan Nilo Crocodile Birkin , salah satu tas termahal di dunia.

Lantas apa yang menjadikan tas mewah tersebut menjadi sebuah investasi yang menguntungkan?

Fanny Moizant, co-founder situs preloved barang mewah Vestiaire Collective menuturkan, tas-tas mahal tersebut memiliki daftar antrean yang sangat panjang. Banyak orang rela antre untuk memilikinya dan memakainya, meski tas tersebut merupakan tas 'bekas'. Tak heran, karena kualitas Hermes sudah tidak diragukan lagi keunggulannya.

Namun tidak hanya Hermes saja, tas-tas lain seperti Céline, Chanel dan Louis Vuitton juga menjadi investasi yang menguntungkan. Di situs tersebut, tas keluaran Chanel terjual cepat dalam hitungan 17 detik!

"Anda membayar 2,8 kali lebih banyak daripada kamu membayar tas Birkin 7 tahun lalu. Dan itu hanya harga ritelnya saja. Ada pasar yang sangat besar untuk tas langka, dan ketika brand tersebut membatasi produksinya, orang-orang akan rela bayar mahal. Mereka ingin tas yang langka, klasik dan dari brand ternama," tutur Moizant seperti dikutip dari Telegraph.

Sekarang ini, balai pelelangan menilik pasar dari koleksi desainer atau rumah mode, termasuk gaun couture, tas tangan dan perhiasan. Contohnya adalah balai pelelangan Sotheby yang menggelar pelelangan gaun couture pertama di Paris pada 2015 silam. Terdapat lebih dari 150 gaun dari kolektor fashion Didier Ludot, yang mengoleksi gaun couture dari 1924 hingga 2000. Gaun-gaun tersebut termasuk lansiran Dior, Balenciaga, Paul Poiret, dan Madame Grès.

Moizant mengatakan, investasi masa kini terhadap tas dan sepatu branded lebih tinggi peminatnya. Bahkan, saking berharganya barang tersebut, ada orang yang rela membeli Birkin daripada menabung untuk biaya kuliah anaknya.

"Tas itu disimpan hingga 20 tahun dan pada masa itu, harganya telah meningkat berkali-kali lipat seperti harga sebuah apartemen," pungkas Moizant.

Investasi unik

Bagaimana strategi berinvestasi barang-barang bermerek?

Investasi barang bermerek menjadi investasi yang unik dibanding investasi tanah atau properti. Karena, selain menjadi instrumen investasi, barang bermerek bisa menjadi pelengkap penampilan. "Dari barang itu, kita mendapat keuntungan. Bisa digunakan sendiri, disewakan, atau dijual lagi," ujar perencana keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE) Financial & Business Advisory, Andy Nugroho.

Andy mengatakan, barang bermerek yang sering dijadikan investasi sering kali erat kaitannya dengan dunia fashion seperti tas. Bahkan, ada beberapa orang yang khusus membeli tas bermerek untuk kemudian disewakan kepada perempuan yang ingin tampil gaya. Selain tas, motor atau mobil mewah juga bisa dijadikan investasi. 

Namun investasi pada barang-barang bermerek tidak selalu untuk disewakan. "Beberapa ada yang hanya dijadikan sebagai barang antik. Nah, nanti setelah agak lama baru dijual," ucapnya.  

Return yang diperoleh dari investasi barang bermerek tergantung dari seberapa jauh kita mengeksplorasinya dan tidak ada patokan baku. "Seandainya barang tersebut tergolong antik, maka return-nya bisa tinggi, di atas 10-20 persen," ujar Andy. 

Semakin langka barang tersebut, maka peminatnya semakin banyak. Jika si pelaku ingin return yang lebih banyak, ia bisa sering-sering menyewakannya. 

Misalnya, jika ia membeli tas seharga Rp 5 juta, ia bisa menyewakannya dengan harga Rp 300-500 ribu. Dengan begitu, keuntungan yang diperolehnya bisa banyak, bahkan jika diakumulasikan bisa jadi setara dengan harga pembeliannya. 

Harus asli

Saat berinvestasi barang bermerek, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. "Yang terpenting barang tersebut harus asli," kata perencana keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE) Financial & Business Advisory, Andy Nugroho.

Pasalnya, tidak akan ada orang yang mau menyewa jika barang tersebut palsu atau berkualitas KW. Kemudian, perawatan barang tersebut harus terjaga baik sehingga orang tertarik menyewa. 

Keuntungannya berasal dari sisi return investasi. Artinya, dari barang investasi tersebut kita bisa memperoleh penghasilan, bahkan bisa menutup nominal yang kita keluarkan pada saat membelinya. "Kalau ini terjadi, sama saja kita membelinya secara gratis," ucapnya.  [Tri]

astaga wanita wanita karir investasi branded barang branded gengsi