Fakta Ilmiah di Balik Jatuh Cinta

Sebagai manusia normal anda tentu pernah jatuh cinta. Ya jatuh cinta memang berjuta rasanya. Hati terasa berbunga-bunga, ingin selalu bertemu dan menghabiskan waktu bersama si dia.

Tapi tahukah anda bahwa jatuh cinta tidak melulu tentang perasaan?

Terdapat fakta ilmiah tentang jatuh cinta. Ketika jatuh cinta beberapa hormon bekerja di dalam tubuh baik pada pria maupun wanita.

Jatuh cinta terbagi menjadi tiga tahap, yakni tahap gairah, tahap ketertarikan, dan tahap cinta sejati.

Dalam tahap itu beberapa hormon akan bekerja tanpa disadari.

Nah, berikut beberapa hormon yang bekerja saat seseorang sedang jatuh cinta dan fakta yang menyertainya.

Tahap gairah

Tahap gairah adalah tahap yang paling sederhana dari proses jatuh cinta. Saat jatuh cinta anda akan mengalami kecenderungan sederhana seperti mulai tertarik dan memahami karakter tubuh pasangan.

Hormon yang berkerja pada tahap gairah ini antara lain hormon feromon, pada wanita hormon estrogen, dan pada pria hormon testosteron.

Hormon feromon adalah hormon yang dapat menimbulkan rasa ketertarikan pada pasangan. Rasa tertarik tersebut biasanya dimulai dari mata kemudian dilanjutkan ke bagian tubuh lain yang dianggap spesial.

Efek dari hormon ini ditandai dengan detak jantung semakin cepat, napas tak beraturan, dan lain-lain.

Hormon estrogen (pada wanita) 

dan hormon testosteron (pada pria) merupakan hormon pemicu gairah seksual tahap sederhana.

Jika hormon ini bekerja akan ditandai dengan hasrat yang berpotensi seperti ingin selalu berada didekatnya, ingin menyentuhnya, dan lain-lain.

Tahap ketertarikan

Tahap ini melibatkan kecenderungan emosional dimana keadaan psikologi seseorang yang jatuh cinta bisa berubah-ubah.

Hormon yang bekerja pada tahap ketertarikan antara lain hormon dopamin, adrenalin, serotonin, dan oksitoksin.

Hormon dopamin memberikan rasa senang dan efek rasa candu. Rasa senang terjadi melalui pemikiran dan khayalan mereka yang sedang jatuh cinta pada lawan kemis.

Sama halnya dengan hormon dopamin, hormon adrenalin merupakan pemicu rasa bahagia. Jika hormon ini bekerja maka akan menyebabkan munculnya keringat dan meningkatnya denyut jantung.

Sedangkan hormon serotonin merupakan hormon pemicu rasa kantuk. Ketika jatuh cinta, kadar hormon ini menurun. Nah, hal itu membuat orang yang sedang jatuh cinta sulit tidur sebab selalu melamun dan mengingat si dia.

Hormon oksitosin dapat memicu rasa ingin selalu dekat, adanya perasaan aman dan nyaman. Hormon ini dapat meningkat saat seseorang yang jatuh cinta bertemu dengan pasangannya.

Tahap cinta sejati

Tahap cinta sejati dilalui oleh pasangan yang sudah dalam ikatan pernikahan. Pada tahap ini terdapat dua hormon yang bekerja yakni hormon oksitosin dan hormon vasopresin.

Hormon oksitosin yang diproduksi pada tahap cinta sejati semakin meningkat. Bekerjanya hormon ini dapat memicu gairah bercinta sampai mencapai orgasme.

Sedangkan hormon vasopresin berperan dalam memicu gairah seks. Jika hormon ini bekerja maka pasangan dapat menikmati hubungan seks sebagaimana mestinya.

Nah bagaimana dengan anda? Apa yang anda rasakan dan alami saat jatuh cinta? Pasti indah ya, apalagi saat remaja dulu. Apapun itu, jadikan cinta sebagai penambah semangat untuk melakukan hal yang terbaik. [Editor: Tri Meinarni]

astaga wanita wanita karir fakta ilmiah jatuh cinta varia