Bagaimana Mengajarkan Anak Memecahkan Masalahnya Sendiri? Simak 10 Tipsnya Disini!

Setiap orangtua tentu ingin memiliki anak yang mandiri dan tangguh dalam arti bisa mengatasi dan mengelola masalah yang dihadapi.

Tentu ini bukanlah hal yang mudah, mengingat sifat alamiah anak yang manja dan sangat ketergantungan pada orangtuanya.

Namun, semua tentu bisa diupayakan. Mengajarkan anak tentang pemecahan masalah (problem solving) justru bisa dilakukan sejak dini agar anak tumbuh menjadi pribadi yang kuat, yang mampu menyelesaikan masalahnya dengan baik.

So, bagaimana cara mengajarkan anak terutama balita, untuk mengatasi masalahnya? Cek this out 10 tipsnya moms:

1. Metode permainan

Gunakan metode permainan agar lebih mengasyikkan dan membuat anak tidak merasa tertuntut dan tertekan dalam menerima pembelajaran tersebut. Manfaatkan media bermain anak sebagai tempat pembelajaran tersebut, seperti dengan cara bercerita atau pada kejadian sehari-hari.

2. Komunikasi dua arah

Jalinlah komunikasi dua arah yang baik antara orang tua dan anak. Keterampilan komunikasi yang dimiliki orang tua dapat memperlancar tujuan pembelajaran pada anak.

3. Biarkan anak belajar

Biarkan anak belajar memecahkan masalah yang muncul dalam kehidupannya. Orang tua hanya memfasilitasi dan akan memberi bantuan jika anak benar-benar tidak mampu menyelesaikan masalahnya.

4. Melatih empati

Anak dengan usia 3-5 tahun sudah mulai bisa menunjukan rasa empatinya terhadap oranglain. Jadi, jangan heran ketika ia melihat keluarga atau temannya disakiti ia akan menangis atau kesal.

Akan tetapi, terkadang juga masih muncul sifat egoisnya. Nah, untuk mengasah kemampuan si anak mengenali perasaan orang lain, ajaklah balita untuk mengenali bahasa tubuh dan ekspresi yang dimunculkan oleh orang lain.

Dari sini, anak-anak akan bisa menghindari dan menentukan perbuatannya terhadap orang lain sehingga masalah bisa dihindari.

5. Asah kemampuan

Asah kemampuan balita untuk dapat memilah dan memilih situasi dengan mengajukan sebuah pertanyaan. Hal ini tentunya dilakukan untuk mengetahui apa yang terjadi dan menghindari pertengkaran pada si anak yang akan memicu masalah.

Seperti misalnya, tanyakan apa yang terjadi, mengapa masalah tersebut terjadi dan lain-lain.
Jika balita masih mengalami kesulitan untuk menemukan solusi dalam menyelesaikan masalah, maka berikan mereka pilihan solusi.

6. Selesaikan masalah dengan berbicara

Berikan pemahaman pada balita tentang bagaimana menyelesaikan masalah yang baik. Tidak perlu ada agresi fisik seperti memukul, mencubit atau menggigit. Penyelesaian masalah bisa dilakukan dengan dialog.

Berikan contoh pada anak tentang bagaimana mengontrol sikap. Anda juga bisa menyelesaikan masalah yang melibatkan balita anda dengan mengajaknya  berdiskusi. Cara ini diharapkan bisa ditiru oleh si balita dan diserapnya untuk kemudian bisa diaplikasikan dalam kehidupan nyata.

7. Identifikasi masalah

Bantu anak untuk mengidentifikasi masalahnya sendiri. Hal ini dilakukan agar dapat mengetahui masalah yang sesungguhnya dan orang tua dapat membantu anak untuk menentukan hal yang selanjutnya bisa ia lakukan.

Misalkan ketika anak bertengkar dengan temannya, minta anak untuk duduk bersabar dan tanyakan masalah apa yang sebenarnya terjadi. Jika masalahnya dipicu karena salah paham, maka Anda bisa meminta anak untuk kembali bersama dengan teman-temannya dan bermain bersama kembali.

8. Usahakan untuk tidak ikut campur

Ketika anak menengahi pertengkaran teman-temannya. Maka, coba hargai pendapat anak dan berikan mereka kepercayaan bahwa ia akan menemukan solusinya. Berikan waktu untuk dapat menengahinya. Meski tak jarang hal ini akan membuat ia berlari dan meminta bantuan orang dewasa, akan tetapi tetap berikan ruang dan kepercayaan.

Ketika anak datang menghampiri Anda untuk meminta bantuan agar bisa menengahi pertengkaran temannya, cobalah ajukan beberapa pertanyaan padanya. Dengan begitu, umumnya anak-anak akan dapat menerima solusi yang diusulkan oleh orang dewasa. Misalnya dengan mengatakan, "Kalo menurut mama, daripada kalian bertengkar gara-gara ingin satu kelompok, lebih baik bermain bersama-sama sayang."

9. Selalu support anak untuk menyelesaikan masalahnya

Meskipun masih kecil dan masih balita, bukan berarti anak-anak tidak memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Asal ada usaha dan bantuan serta dorongan dari orangtua untuk melakukannya, perlahan namun pasti si balita akan belajar bagaimana caranya menyesaikan sebuah konflik. Memang hasil yang diraih tidak akan sempurna, akan tetapi proses lah yang lebih penting, bukan hasil akhirnya. 

10. Beri waktu pada anak untuk mencari jalan keluar

Jangan terlalu cepat ikut menyelesaikan masalah anak. Beri waktu padanya untuk memikirkan jalan keluar terbaik. Anak-anak yang terbiasa mengatasi masalahnya sendiri diharapkan lebih memiliki kepercayaan diri dan konsep yang lebih baik. Anak yang terampil dalam problem solving juga akan lebih mampu menerima tantangan, sehingga reaksinya dalam menghadapi kesulitan juga lebih baik dan bisa menghindari keputusan-keputusan yang negatif.

Selain bermanfaat untuk anak, pembelajaran problem solving pada anak juga memiliki pengaruh besar pada orang tua. Antara lain, orang tua tidak terus menerus merasa khawatir bila anaknya tidak sedang berada di dekatnya. Karena anak sudah terlatih untuk membiasakan dirinya menyelesaikan masalah, bisa berkembang sebagai anak mandiri dan tidak cengeng. Ini akan sangat bermanfaat dalam pembentukan karakternya yang positif. [Tri]

astaga wanita wanita karir anak-anak parenting 10 tips tips problem solving