Mengukur Kinerja Reksadana

Pengambilan keputusan dalam berinvestasi, selalu dibarengi harapan akan menuai keuntungan besar. Termasuk berinvestasi di reksadana. Tiap investor tentu menginginkan return tinggi dengan risiko yang rendah.

Tapi bagaimanakah mengukur kinerja reksadana sehingga investor memahami jenis reksadana yang dipilih dan profil risikonya? Berikut barometer bareksa sebagai panduan pemahaman mengukur kinerja reksadana.

Pertama, perencana akan memisahkan reksadana berdasarkan jenis. Pasalnya,  performa reksadana saham berbeda dengan reksadana pasar uang atau pendapatan tetap. Sehingga akan tidak adil jika membandingkan reksa dana tanpa memperhitungkan jenis reksa dana tersebut.

Perlu diketahui, per April 2017 jenis reks dana yang masuk dalam penilaian bareksa adalah Reksadana Saham, Campuran, Pendapatan Tetap, Pasar Uang, serta Indeks & ETF. Mengingat keterbatasan publikasi data dan ketidakseragaman format, maka tidak dilakukan penilaian pada reksadana Terproteksi dan reksadana Penyertaan Terbatas.

Kedua, memisahkan reksa dana berdasarkan nilai dana kelolaan (AUM). Penting untuk diketahui bahwa reksa dana dengan dana kelolaan besar ( > Rp500 miliar) biasanya bergerak lebih moderat ketimbang reksa dana dengan dana kelolaan kecil ( < Rp100 miliar). Hal ini terjadi karena reksa dana dana kelolaan kecil lebih leluasa menentukan alokasi investasi pada instrumen investasi yanglebih fluktuatif seperti saham-saham mid-cap.

Sementara itu, reksadana dengan dana kelolaan besar, akan lebih berhati-hati dalam menentukan alokasi investasi karena perubahan pada portofolio investasi akan berdampak besar pada nilai aset yang dikelolanya.

Dalam hal ini, Bareksa membagi Barometer ke dalam tiga tahapan nilai dana kelolaan yakni reksa dana dengan AUMdi atas Rp500 miliar, reksa dana dengan AUM Rp100-Rp500 miliar, dan terendah yakni reksa dana dengan AUM di bawah Rp100 miliar.

Ketiga, masuk dalam proses penilaian yang menggunakan dua parameter utamayakni return dan risiko.

Return

Bareksa mengukur return reksadana dalam periode tahunan, bulanan dan juga dalam enam bulan terakhir. Returnmasing-masing reksa dana kemudian dibandingkan dengan rata-rata return reksa dana sejenis untuk mendapatkan urutan nilainya. Tidak hanya total return, Bareksa juga menghitung seberapa konsisten suatu reksa dana mampu mencetak return lebih tinggi dibandingkan rata-rata kompetitornya.

Parameter return memiliki bobot 50 persen terhadap penilaian. Tambahan nilai akan diberikan bagi reksadana yang dalam enam bulan terakhir secara konsisten mencetak return diatas rata-rata.

Risiko

Untuk mengukur risiko reksa dana, variabel yang digunakan adalah nilai standar deviasi. Standar deviasi adalah nilai statistik yang digunakan untuk mengetahui seberapa besar sebaran data (yang dalam hal ini merupakan return reksa dana). Semakin besar nilai nilai standar deviasi suatu reksa dana menunjukkan semakin besar sebaran data return reksa dana tersebut.

Artinya, reksadana dengan standar deviasi besar bergerak lebih fluktuatif dibanding reksa dana dengan standar deviasi rendah. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa reksa dana dengan standar deviasi besar lebih berisiko dibanding reksa dana dengan standar deviasi kecil. Serupa dengan parameter return, parameter risiko memiliki bobot 50 persen terhadap penilaian. (Maria)

reksadana bisnis astaga wanita investor wanita karir