Optimisme Di Tengah Kegamangan Global

Kondisi likuiditas perusahaan pada triwulan II 2017, ditengarai baik bahkan memberikan pengaruh positif bagi dinamika perbankan Indonesia.

Kondisi likuiditas perusahaan pada triwulan II  2017, ditengarai baik bahkan memberikan pengaruh positif  bagi dinamika perbankan Indonesia. Hal ini dipaparkan Bank Indonesia berdasarkan hasil survei, pertengahan Juli lalu,   seputar Kegiatan Dunia Usaha, yang menyebut bahwa sebagian besar responden (54,19 %) optimis terhadap kondisi perekonomian di tanah air. Total responden sebanyak 3.039 perusahaan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Penelitian tersebut juga menyatakan, sebanyak 41,75%  responden meyakini bahwa kondisi ini lebih baik dibanding periode sebelumnya. Dan hanya 4,06% yang  menyatakan lebih buruk dibanding periode sebelumnya. Tingkat kepuasan ini sejalan dengan kinerja keuangan perusahaan pada triwulan II-2017 yang secara umum membaik. Kapasitas produksi terpakai meningkat ke rata-rata 77,06%, lebih baik dibanding 76,92% pada triwulan I-2017 maupun triwulan II-2016 sebesar 77,01%.

Hal itu  mendorong kemampuan perusahaan mencetak laba (rentabilitas) meningkat. Sebagian besar responden (53,03%) menyatakan rentabilitas cukup baik, sebanyak 44,11% mengatakan lebih baik, dan hanya 2,86%yang menyatakan lebih buruk dibanding periode sebelumnya.  Selain itu, sejalan dengan peningkatan kegiatan usaha, penggunaan tenaga kerja meningkat, dengan yang terbanyak di sektorjasa-jasa, disusul industri pengolahan, sektor keuangan, real estate danjasa perusahaan, serta sector perdagangan, hotel dan restoran.

Sebagian besar responden (68,35%) juga mengonfirmasi bahwa akses kredit perbankan pada triwulan II kondisinya normal. Sedangkan kegiatan investasi kuartal II-2017 meningkat dibandingkan kuartal I-2017. Kegiatan investasi diperkirakan meningkat pada semester II-2017, dengan nilai investasi yang diperkirakan lebih tinggi dari semester II tahun lalu.

Di sisi lain, sebuah studi juga mengungkapkan bahwa fenomena perempuan pengusaha di Indonesia menjadi sangat menarik untuk dilihat karena ternyata pengusaha perempuan mikro dan menegah sudah mulai memegang peranan penting dalam bidang usaha. Kegiatan usaha yang dijalankan oleh perempuan initernyata mewakili 60% dari jumlah keseluruhan pengusahan mikro dan memberikan kontribusi yang besar bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

 

Konstelasi Ekonomi Global

Namun angin sejuk situasi domestik, masih harus menghadapi kenyataan  terhadap konstelasi ekonomi global yang belum menentu. Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro pun, yang sebelumnya masih optimistis dengan target 5,7% sesuai APBN-P 2015, belakangan hanya mampu memprediksi ekonomi cuma tumbuh  diangka 5,4%.

Revisi ini dilandasi pertimbangan sejumlah kondisi, seperti pelemahan harga minyak mentah, rendahnya harga komoditas, rencana penaikan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed), dan perlambatan ekonomi Tiongkok. Sedangkan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini dari 3,8% menjadi 3,5% dan dari 3,4% menjadi 3%.

Meski begitu, lagi-lagi aura optimistis, dihembuskan dari dunia perbankan. Menurut Fauzi Ichsan, anggota Dewan Komisioner merangkap Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), perbankan di tanah air sekarang makin efisien. Kredit bermasalah atau non performing loan  juga menurun. Hal ini mendorong perbankan meningkatkan penyaluran kredit secara terukur.

Ia juga menilai upaya pemerataan ekonomi yang dilakukan pemerintahan Joko Widodo cukup berhasil. Hal ini ditandai dengan lonjakan jumlah rekening maupun nilai simpanan diperbankan. LPS mencatat, ada penambahan hampir 6 juta dalam 1 bulan (Mei 2017), yang diperkirakan karena program pemerintah. Jumlah rekening yang dijamin LPS meningkat menjadi 51,4%. “Tidak biasanya, biasanya naik hanya ratusan ribu, ini dalam satu bulan tambah 6 juta. Jumlah rekening yang dijamin LPS sampai Rp 2miliar naik jadi 51,4%, dugaan saya ini program pemerintah,” papar dia.

Berdasarkan jenis simpanannya, yaitu giro, tabungan dan deposito, jenis simpanan yang jumlah rekeningnya mengalami kenaikan paling tinggi adalah tabungan. Kenaikannya mencapai 2,89%, dari 200,07 juta rekening pada April 2017 menjadi 205,85 juta rekening pada Mei 2017.  Sementara itu, kenaikan nominal simpanan tertinggi adalah giro sebesar 4,32%, yakni dari Rp 1.183,91 triliun April 2017 menjadi Rp 1.235,10 triliun Mei 2017.

Peningkatan jumlah rekening simpanan yang dijamin dalam rupiah sebesar 2,82% (mom), di mana per akhir April 2017 berjumlah 205,84 juta rekening dan menjadi 211,64 juta rekening per akhir Mei 2017.  Untuk jumlah rekening simpanan dalam valas menurun, dimana per April 2017 jumlahnya 1.045.990 rekening dan menjadi1.042.965 rekening di akhir Mei 2017. Dilihat dari nominalnya, simpanan dalam rupiah naik 1,66% (mom), dari sebesar Rp 4.284,63 triliun April 2017 menjadi Rp 4.355,54 triliun Mei 2017.  Untuk simpanan dalam valas, jumlahnya meningkat sebesar 2,77% (mom) dari sebesar Rp 729,06 triliun hingga April 2017 menjadi Rp 749,28 triliun per Mei 2017. Total simpanan di bank umum per Mei 2017 mengalami peningkatan sebesar Rp 91,13 triliun atau 1,82% (mom) dibanding posisi akhir April 2017, menjadi sebesar Rp 5.104,82 triliun.  

Sedangkan total bank umum peserta penjaminan per Mei2017 berjumlah 115 bank. Ini terdiri atas 102 bank umum konvensional dan 13bank umum syariah. Bank umum konvensional terdiri atas 4 bank pemerintah, 25 bank pemerintah daerah, 64 bank umum swasta nasional, dan 9 kantor cabang bank asing.

Syukurlah, masih ada pertumbuhan baik di tanah air didukung sikap optimisme dunia perbankan. Meskipun masih harus menghadapi situasi global yang belum menentu.