Tetap Waras Bermain MedSos

Berselancar di dunia maya memang membuai, namun siapa sangka kamu bisa "gila' dibuatnya. Apalagi kalau kamu sudah kecanduan media sosial.

Harus diakui, para pengguna aktif media sosial mengaku kehidupan mereka dipengaruhi oleh apa yang mereka lihat di news feed-nya. Melihat "hidup orang lain" kok rasanya indah seperti filter VSCO. Hidup mereka kok lebih seru daripada kamu. Standar "keseruan" hidup ditentukan oleh trend di media sosial.

Ada perasaan tak puas dengan kehidupan sendiri, merasa tersisih, kurang, sehingga perasaan-perasaan negatif ini membuat kamu menjadi stres.

Jika mau jujur, ada rasa iri hati melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna. Padahal kita tak tahu yang terjadi di balik layar smartphone masing-masing. Jagalah hati kita dari perasaan terbuang dan tersingkir, apalagi jika itu terjadi dari media sosial.

Faktanya, jutaan orang mengakses media sosial, khususnya Facebook, setiap harinya. Ironisnya, bukannya merasa terhubung satu sama lain, penelitian yang dipublikasikan di jurnal Cyberpsychology, Behaviour and Social Networking justru mengungkapkan, pengguna internet aktif saat ini mempertanyakan, apakah keterhubungan mereka satu sama lain di dunia ini baik untuk kehidupan sosialnya?

Maka agar kita senantiasa "waras" saat bermain media sosial, hendaknya tahu kapan untuk mundur. Ya.. mulai dari mengurangi frekwensi dan mungkin menutup akun media sosial yang jadi racun.

Percayalah, kamu tidak perlu tahu semua apa yang ada di luar sana. Kecuali pekerjaan kamu buzzer, social media specialits, dan sebagainya yang berkaitan untuk kepo dan mau tahu urusan orang lain di dunia maya.

Jaga hati, jaga mata, dengan begitu kewarasan kamu terjaga. Main media sosial tidak perlu pakai hati. Pakai santai aja.

media sosial waras iri hati facebook psikologis