Saya Dulu Pelancong….

Sekarang saya tidak lagi melancong seperti dulu. Masa-masa itu sudah berlalu, namun saya tidak bilang, masa itu tidak akan terulang lagi. Pasti ada kesempatan.

Pada usia 20an, saya adalah apa yang kamu sebut traveler, backpacker, apapun namakerennya sekarang. Saya adalah generasi awal “pelancong Airasia” merasakantiket 0 rupiah, super murah, sampai tiket harga normal untuk berkeliling.

Saya berdoa untuk pergi ke “altar suci”Himalaya, bertemu dengan Dalai Lama, dan semua itu jadi nyata. Saya melancong dengan sisihan uang fellowship beberapa ribu dollar dan sangat bahagia.

Saya pelancong yang bangun pagi untuk menikmati kopi dan roti lapis Perancis, berteriak di “kantor imigrasi” illegal diperbatasanThailand-Kamboja, punya supir tuk tuk ber-iPhone di Angkor Wat, dikasih mangga oleh penduduk lokal Bagan, naik ojek subuh nan dingin ke Candi Borobudur.

Lebih dari sekedar menandai paspor dan centreng “bucket list”, melancong adalah cara yang indah untuk bertemu orang asing. Orang-orang baik.

Namun sudah beberapa tahun ini saya berhentimelancong. Tujuan saya makin jelas, saya suka Ubud, saya suka Bali, dan sayapergi kesana. Tidak ada lagi khayalan untuk pergi ke tempat yang jauh.

Entah kenapa. Mungkin saya realistis saja.Keadaan tidak memungkinkan saya untuk bepergian, jadi menghayal saja sudahtidak bisa. Dulu pada jamannya, saya tahu mau kemana, naik apa, kapan, akanbagaimana. Bucket list semua sudahdicentreng. Tinggal kini kertas kosong.

Alasannya mudah, ada prioritas lain dalam hidupsaya. Saya menikah, dan saya hamil.

Namun keadaan ini membawa saya ke “khayalan dulu”,bahwa kelak saya akan menjadi ibu gaul yang melancong bersama anaknya. Saya akan berusaha untuk mewujudkan hal itu. Masih segar, ingatan tentang pasangan bule yang jalan-jalan bersama anak-anak mereka. Saya ingin menjadi mereka.

Sementara ini, saya tahan diri melihat foto-fototeman atau kenalan saya yang menikmati hidupnya dengan melancong. Ada irisedikit, wajar saja.

Saya dulu pelancong, sekarang tidak lagi. Prioritassaya berbeda. Saya senang punya kenangan. Semoga kenangan yang nantinyamenghidupkan nyala semangat saya lagi untuk bertualang.

Saya pernah baca sebuah kutipan, kira-kira seperti ini… “Karena kapal terbang sudah dibuat, gedung-gedung tinggi sudah dibangun, tidak perlu khawatir untuk tidak menjangkau suatu tempat..” Ya,kenapa harus khawatir. Selama ada umur panjang.

 

 

travel melancong backpacker india traveling wisata