Pray For Idlib Atas Senjata Kimia Mematikan

Lagi-lagi rezim Bashar al-Assad kembali membantai rakyat Suriah dan dalam serangan kali ini, kembali menggunakan senjata kimia.

Negara-negara Barat menuding pasukan Suriah berada di balik serangan gas kimia di Kota Idlib, Suriah yang dikatakan menewaskan hampir 80 warga sipil dan melukai ratusan lainnya.

Korban tewas tanpa luka berjatuhan

Korban tewas tanpa luka berjatuhan Foto : kumparan

Amerika Serikat (AS) menyebut para korban tewas terkena gas saraf sarin yang dijatuhkan pesawat tempur rezim Suriah. Sedangkan Rusia metakini bahwa paparan kimia itu berasal dari kebocoran gas dari sebuah gudang senjata kimia milik kelompok pemberontak yang terkena serangan udara rezim Suriah.

Sarin merupakan senyawa organophosphorus dan sebuah gas saraf. Gas mustard dan klorin, yang diyakini pernah digunakan sebelumnya di Suriah, bukan merupakan gas saraf. Paparan gas saraf mengganggu mekanisme saraf pada tubuh manusia. 

Kementerian Pertahanan Rusia, dalam pernyataannya, tidak menyebut zat kimia jenis apa yang digunakan dalam serangan di Idlib. Namun mereka menyatakan kelompok pemberontak Suriah telah menggunakan senjata kimia yang sama di Aleppo, tahun lalu. 

Dalam pernyataannya, WHO menyatakan kemungkinan besar senjata kimia sejenis itu digunakan dalam serangan di Idlib karena para korbannya tidak menderita luka eksternal dan beberapa tewas dengan berbagai gejala serupa, termasuk gangguan pernapasan akut. 

WHO menyebut, para pakarnya di Turki terus memberikan panduan bagi para pekerja medis di Idlib yang kewalahan. Mereka membantu diagnosis dan perawatan korban. Obat-obatan seperti Antropine, penangkal paparan kimia dan steroid untuk perawatan gejala-gejala yang terjadi, telah dikirim ke Idlib.

Komisi Penyelidikan PBB untuk HAM di Suriah sebelumnya menyebut pasukan loyalis Presiden Bashar al-Assad pernah menggunakan gas klorin mematikan dalam beberapa serangannya. Kemudian pada Agustus 2013 lalu, ratusan warga sipil tewas akibat serangan gas sarin di Ghouta, pinggiran Damaskus. Rezim Assad selalu menyangkal bertanggung jawab atas serangan semacam itu.

source : Detik

Mohammed yang pernah bersaksi di PBB tahun 2015 atas penggunaan senjata kimia baru oleh rezim Suriah mengaku mencium bau klorin dalam serangan Selasa kemarin. Tapi, kata dia, ada campuran lain yang tidak diketahuinya, sebuah "gas beracun yang menyebabkan kematian."

Mohammed Hassoun, seorang aktivis media di kota Sarmin, selemparan batu dari Khan Sheikhoun, mengatakan para dokter meyakini serangan itu menggunakan lebih dari satu gas beracun.

"Gas klorin tidak menyebabkan kejang (konvulsi). Ada 18 korban yang kritis saat ini. Mereka tidak sadarkan diri, kejang dan ketika diberi oksigen, darah keluar dari hidung dan mulut," kata Hassoun.

source : kumparan

idlib