Coding Mum: Ketika Ibu Rumah Tangga Jadi Programer

Dunia IT identik dengan dunia laki-laki. Tapi bukan berarti perempuan gaptek. Lewat program Coding Mum, para ibu rumah tangga membuktikan diri mereka bisa kok berkarya di bidang IT. Sambil kerja, tetep bisa ngurus rumah tangga kok.

"Buat website? Aduh, kayaknya gue ga ngerti deh yang gitu-gitu."

"Halah, pake buat website. Ngurusin anak ama suami aja dah sibuk, Lagipula gue gaptek."

Sering kan denger pernyataan kaya gini? Perempuan memang masih dianggap sebagai"makhluk kelas dua"di dunia teknologi. Membuat website masih dianggap hal aneh dan hanya bisa dilakukan oleh pakar IT semata. Apa bener begitu?

Ternyata nggak lho. Lewat program Coding Mum yang diadakan Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (BEKRAF), para ibu rumah tangga membuktikan mereka bisa kok handal di bidang IT. Hebatnya, mereka juga banyak yang bisa bekerja di industri secara freelance atau membuka usaha sendiri lewat website yang mereka hasilkan. Sambil masak, ngurus anak dan suami, mereka tetep bisa berpenghasilan. Mantap kan?

Diah Paramita, alumni Coding Mum Bandung, bercerita soal pelatihan ini. "Di Coding Mum kita diajarkan membuat website dari awal. Jadi benar-benar diajarin bahasa programer. Selama ini kita kan taunya buat web atau blog ya pake Blogspot atau Wordpress yang templatenya udah ada. Nah, ternyata memang berat juga ya buat web from scratch,"ujar Diah kepada Astaga.com.

Program ini terdiri dari lima belas kali pertemuan dan tiap pertemuan itu berlangsung selama tiga jam. Dari belajar membuat website itu, nantinya kita bisa mengembangkan apakah akan jadi toko online, blog pribadi, atau majalah online.

Gimana tuh para ibu yang masih awam tiba-tiba belajar IT yang terkesan rumit? "Awalnya memang asing ya denger istilah kaya HTML. Tapi perlahan-lahan ternyata bisa kok,"ujar wanita berjilbab ini.

Tantangan mengajar para ibu rumah tangga ini juga dirasakan salah satu mentor Coding Mum, Sofyan. Pria yang menjadi mentor di program Coding Mum Makassar ini sempet bingung saat ditawarin ikut program Training of Trainer untuk Coding Mum.

"Pertanyaan saya, bisa gak ya. Mahasiswa saya aja dikasih tugas belum tentu bisa. Lalu, gimana ngajarinnya. Lalu, kita ini kekurangan programer, lah lulusan saya ini ke mana kok harus melatih ibu-ibu? Masalahnya apa? Itu empat pertanyaan yang muncul di benak saya,"ujar dosen STMIK Kharisma Makassar tersebut.

Mengajarkan cara membuat website kepada ibu-ibu jelas beda dengan mengajar materi yang sama kepada mahasiswa. Sofyan memulai dengan mengajak ibu-ibu berbagi mengenai hal-hal sehari-hari. Misal, ngomongin makanan, lalu anak. Antusias kan? Nah, baru di situ masuk materi.

Terus, kira-kira bisa gak ya? Ternyata hasilnya wow. Sofyan memuji antusiasme para ibu untuk belajar, bahkan di dua pertemuan terakhir mereka meminta kelas tambahan. Ini karena mereka semua berlomba menampilkan presentasi terbaiknya.

Seru kan ternyata belajar jadi programer? Tapi, ngomong-ngomong kenapa sih ada program Coding Mum?

Ibu Rumah Tangga Yang Berdaya

Ibu Rumah Tangga Yang Berdaya

Seperti yang dijelaskan, program Coding Mum ini diadakan untuk mendukung perkembangan ekonomi kreatif yang terdiri dari berbagai subsektor seperti periklanan, kuliner, TV, penerbitan, dan lain-lain. Potensi ekonomi kreatif itu besar lho guys!

Menurut Muhammad Amin, Kasubdit Edukasi BEKRAF menjelaskan dalam acara diskusi di JCC Jumat, bahwa kontribusi kuliner mencapai 32.4 persen, sementara fashion mencapai 27.9 persen kepada pendapatan domestik bruto.

"Sektor-sektor ini tentunya tidak bisa berdiri sendiri,"ujarnya. Coding Mum adalah bagian dari upaya pemerintah untuk mengembangkan potensi ibu rumah tangga untuk bisa menjadi tenaga terampil.

Pak Amin menjelaskan hingga tahun 2030, Indonesia mengalami bonus demografis dengan 60 persen penduduk diperkirakan berada di usia produktif. Nah, tentunya kita kan butuh tenaga terampil. "Kita butuh 113 juta tenaga terampil pada tahun 2030. Semoga tambahannya bisa dari program ini,"ujarnya.

Selain itu, dia juga mengemukakan semakin banyaknya perempuan yang berpendidikan tinggi, namun harus tinggal di rumah karena anaknya masih terlalu kecil untuk ditinggal bekerja di luar rumah. Tentunya sayang kan kalo potensi ini disia-siakan?

Salah satu wakil dari industri, Ellen mengatakan bahwa Indonesia kurang tenaga programer. "Karena banyak orang berpotensi yang sudah bekerja di luar negeri,"ujar perempuan yang berlatar belakang animasi ini.

Tahun lalu bulan Oktober, papar Ellen, sempat ada dua kelas untuk test aja, gimana ngajarin coding, web design dan segala macemnya ke ibu-ibu. Ternyata berhasil. Program ini sudah ada di enam kota dan sudah ada 100 lulusan.

Senada dengan yang dikatakan Sofyan, mengajarkan pemrograman kepada ibu-ibu tidak bisa dengan cara ngikutin instruksi di buku. "Kita mengajarkan cara berpikir programer, diskusi. Karena teknologi ini kan berkembang pesat. Sekarang dengan setahun kemudian pasti beda,"ujar Ellen.

Ibu-ibu ini ternyata menikmati banget kelas ini, karena"tidak merasa terintimidasi" (kan ga ada laki-laki hehe). Hebatnya, salah satu online shop terkemuka Tokopedia sudah merekrut 40 lulusan Coding Mum untuk bekerja secara freelance untuk mereview aplikasi mereka. Hebat banget kan?

Ke depan..Coding Mum akan membuka pelatihan untuk para TKI yang ada di Singapura, Korea, dan Hong Kong. "Karena banyak juga para TKI ini yang pendidikannya cukup tinggi".

Selain ada di enam kota (Jakarta, Bandung, Bogor, Surabaya, Makassar, dan Malang). Nanti akan ada di empat kota lagi, di Denpasar, Balikpapan, Jogja, dan Tangsel.

Intinya? Jangan takut ama programming. Dengan bahasa yang simple, ternyata ibu-ibu bisa berkarya dan gak gaptek lagi. Sukses terus Coding Mum!

Mau tau lebih lanjut soal coding mum? Cek disini