Benarkah Manusia Bukan Mahluk Pemaaf ?

Seorang profesor bidang psikologi dari Amerika Serikat mengatakan, memaafkan bukan sifat bawaan manusia. Mungkin ini kepada drama tetap panjang, perang makin ramai.

Menurut Robert Enright dari International Forgiveness Institur, tindakan memaafkan atau sifat suka memaafkan bukan merupakan sifat bawaan seseorang. Tindakan memaafkan atau tidak memaafkan merupakan pilihan, dan kemampuan memaafkan ini dapat dilatih dan dipraktekkan semua orang yang menginginkannya.

Banyak orang pula yang memandang maaf, baik itu meminta maaf atau memberi maaf sebagai suatu kelemahan. Namun demi kesejahteraan hidup dan ketenangan batin Anda, coba pandanglah sifat memaafkan sebagai bagian dari Anda, bukan pemberian atau kemurahan hati kepada orang lain. Direktur dari Stanford University Forgiveness Projects Fred Luskin dalam Nine Steps to Forgiveness,  menekankan bahwa tindakan memaafkan lebih baik dipandang sebagai sesuatu yang akan membawa kedamaian ke dalam diri Anda dan mengurangi penderitaan.

Ada banyak alasan kenapa kesalah dibuat sehingga kita terluka dan menunggu maaf seseorang. Begitu juga sebaliknya. Kita melakukan kesalahan, namun enggan atau belum meminta maaf.

Carilah perdamaian, bukan keadilan. Ada satu nasihat yang sangat baik soal perdamaian, yang mengatakan “Jika hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang”.

Dapat melakukan keadilan adalah hal yang indah, akan tetapi seringkali ketika kita menuntut keadilan, kita terbentur dengan perdamaian. Pahami bahwa bahwa memaafkan adalah sebuah proses. Tindakan memaafkan tidak terjadi dalam sekejap, melainkan membutuhkan waktu dan energi untuk mewujudkannya. Begitu juga, kedamaian yang diperoleh dari memaafkan. Seseorang mungkin tidak langsung bahagia dan bebas dari luka batin seketika.

Satu jaminan ketika Anda mengenal Maaf dan menemukan kedamaian adalah kebahagiaan.

maaf drama damai bahagia perdamaian peace