10 Pola Asuh Yang Membuat Anak Manja dan Sulit Keluar dari Zona Nyaman

Semua orang tua pasti ingin menyenangkan dan membahagiakan anak. Terkadang untuk kebahagiaan anak, orang tua akan menuruti dan memenuhi semua keinginan sang anak.

Memang wajar, orangtua memanjakan si buah hati, tapi tetap ada batasannya. 

Jangan sampai perlakuan orang tua terhadap anak berdampak negatif, sehingga membuat anak tumbuh menjadi anak yang manja. Sikap manja pada anak akan membuatnya sulit keluar dari zona nyaman. Dan ini akan menyulitkan kehidupannya di masa mendatang. Anak akan sulit untuk mandiri dan ingin hidup ini selalu mudah.

So moms, be aware ya. Hindari sikap atau pola asuh yang membuat anak terlalu manja dan sulit keluar dari zona nyaman. Lalu apa saja pola asuh yang membuat anak sulit keluar dari zona nyaman? Simak yang berikut ya moms!

1. Pola asuh yang berlebihan

Pada dasarnya tidak ada anak yang terlahir manja. Pola asuh orang tua yang berlebihan dan cenderung salah, akan membentuk pribadi anak yang tidak mandiri dan manja. Sikap over protektif, terlalu khawatir, dan selalu ingin memantau anak akan membuat anak terlena dan sangat ketergantungan pada orangtuanya.

2. Selalu memprioritaskan perhatian dan fasilitas anak

Dalam hal ini orang tua akan selalu melayani si anak apapun kondisinya, tanpa cukup melakukan usaha untuk memberikan pengertian kepada anak, tentang baik dan buruk dari keinginan anak tersebut dan kondisi dari orang tuanya. Orang tua yang juga selalu memberi fasilitas lengkap akan membuat anak terbiasa hidup nyaman dan sulit menghadapi tantangan.

3. Tidak menerapkan aturan

Orang tua tidak mempunyai dan tidak membuat aturan yang tegas dalam keluarga. Sehingga orang tua akan menerima semua kelakuan anak tanpa pengarahan dan batasan yang jelas. Hal ini akan membuat anak bersikap seenaknya, sulit diatur dan berdampak buruk dalam lingkungan sosialnya.

4. Anak tidak diberi tanggung jawab

Anak tidak dibiasakan bertanggung jawab pada ada apa yang diperbuatnya. Orang tua tidak bisa mengatakan "tidak" pada anak, karena tidak mau repot. Hal inilah yang membentuk anak menjadi manja, tidak punya empati dan tanggung jawab.

5. Selalu mengabulkan keinginan anak

Orang tua seperti ini, biasanya akan memberikan apa saja permintaan anak, tanpa memperhatikan baik dan buruknya bagi diri anak itu sendiri. Bagi orang tua yang seperti ini, yang penting anaknya diam dan tidak merengek terus minta apa yang diinginkannya.

6. Lemah dengan ancaman anak

Setiap sikap atau reaksi orang tua terhadap perbuatan dan kelakuan anak akan direkam oleh si anak. Anak akan menghapalkan kebiasaan yang dilakukan oleh orang tua dalam menanggapi keinginannya. Jika setiap kali dengan menangis, keinginannya akan dikabulkan oleh orang tua, maka anak pasti akan melakukan hal tersebut untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Anak akan merasa bahwa apa yang dilakukannya adalah benar karena orang tua tidak pernah menegur atau menyalahkannya.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut akan membentuk kepribadian anak yang manipulatif.
Mereka akan melakukan manipulasi apapun untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.

7. Selalu memaklumi anak

Jika anak membanting mainan, menjerit minta dibelikan boneka, atau tidak mau makan, Anda berpikir, “namanya juga anak-anak, itu nanti akan berlalu.” Ini adalah kesalahan. Memaklumi anak mengeluarkan ekspresi keinginannya, tapi tidak memperhitungkan dampaknya bagi si buah hati.

8. Tidak membiarkan mereka berkembang

Ada banyak ketidakmampuan orangtua dan keengganan anak-anak untuk membiarkan mereka tumbuh dewasa. Orangtua yang tidak membiarkan anak-anak mereka memikul tanggung jawab, kemandirian, dan kemampuan mengurus diri sendiri yang lebih besar, maka seiring bertambahnya usia mereka tidak tumbuh menjadi pribadi dewasa. Pada usia sembilan tahun seharusnya anak sudah bisa mengatasi keinginannya.
 
9. Mencari kesalahan lain

Jika anak melakukan kesalahan, orangtua cenderung menyalahkan pihak lain. Misalnya ketika anak tidak mau belajar karena asik menonton televisi, orangtua malah menyalahkan tayangan televisi. Bahkan sikap buruk anak disinyalir karena pengaruh tayangan televisi.

Memang, tak bisa dipungkiri, dari TV lah anak-anak mencontoh gaya hidup hedonisme. Namun, ketika anak terkontaminasi tayangan televisi, bukan televisilah yang patut disalahkan. Seharusnya orangtua bisa lebih bijak memilah tontonan dan memberi penjelasan tentang apa yang dilihat di media.

10. Banyak memberi toleransi

Rasa tidak percaya diri membuat orangtua terlalu banyak memberi toleransi ketika ingin berlaku tegas kepada anak. Misalnya ketika anak meminta ditemani tidur, orangtua merasa bersalah jika tidak menemaninya. Padahal, anak usia 6 tahun ke atas seharusnya sudah berani tidur sendiri. Hal ini akhirnya menyebabkan anak selalu tergantung kepada orangtuanya.

So moms, berhati-hati ya dalam menerapkan pola asuh terhadap anak. Intinya jangan berlebihan, menyayangi dan memanjakan anak sewajarnya saja. Sebagai orangtua perlu bersikap tegas agar anak memahami bahwa tidak semua keinginannya bisa dipenuhi dengan mudah. Latih terus kemandirian dan tanggung jawabnya. Ingat moms, karakter anak terbentuk dari didikan orangtua yang diterapkan sejak kecil. [Tri]

astaga edukasi kids mom 10 tips asuh anak manja ibu & anak orang tua pendidikan