10 Cara Tepat Mendidik Anak Hiperaktif

Setiap anak adalah istimewa bagi orangtuanya. Tak peduli seperti apapun kondisi anak, mereka adalah anugrah terindah bagi orangtuanya. Begitu juga dengan anak yang terlahir hiperaktif.

Masalah pada anak hiperaktif dikenal juga dengan Attention Deficit Hiperactive Disorder (ADHD). Biasanya anak  hiperaktif mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi, sulit tidur dan sulit fokus pada satu aktivitas. Anak hiperaktif juga umumnya sulit diatur dan bertingkah sesuka hatinya.

Saat bayi, anak hiperaktif akan menunjukkan gejala terus menerus menangis dan berteriak, tidak bisa diam, susah tidur, dan lebih aktif bergerak.

Sejumlah penelitian telah dilakukan oleh para ahli di berbagai pelosok dunia untuk menyingkap penyebab pasti gangguan ini. Hasilnya, ada yang salah pada otak anak  Attention Deficit Hiperactive Disorder (ADHD).

Kelainan pada otak ini bisa terjadi di bagian depan otak, namun bisa pula terjadi pada senyawa kimia penghantar rangsang atau neurotransmitter. Khususnya, dari jenis dopamin dan norepinefrin. Otak anak penderita ADHD, khususnya otak kanan, memiliki ukuran yang lebih kecil.

Tapi moms, jika anak Anda hiperaktif jangan terlalu cemas ya.
Anak hiperaktif bukanlah sesuatu yang buruk jika orang tua mampu mendidiknya dengan benar. Pada dasarnya, anak hiperaktif membutuhkan perhatian dan  kasih sayang yang lebih besar untuk merawat dan mendidiknya.

Berikut ini adalah 10 cara yang tepat untuk mendidik anak hiperaktif, simak yuk moms!

1. Perhatikan asupan makanan anak

Seperti halnya anak autis, ada beberapa jenis makanan yang harus dihindari anak hiperaktif.  Yaitu makanan yang mengandung gluten dan kasein seperti tepung terigu atau susu sapi. Jika kelebihan zat ini pada pola makannya, anak akan menjadi sulit dikendalikan, marah, mengamuk. Kelebihan asupan glukosa juga tidak baik untuk anak hiperaktif. 

Hindari pemberian makanan ringan, tinggi gula, tinggi garam, makanan instan, junk food. Hindari juga penggunaan penyedap makanan, pemanis buatan, dan makanan yang berkarbohidrat tinggi. Perbanyak asupan makanan dari buah dan sayuran.  

2. Beritahukan kondisi anak pada lingkungan

Sifat anak yang hiperaktif seringkali cukup mengganggu jika berada di tempat umum. Beritahukan pada lingkungan tentang kondisi anak, sehingga lingkungan bisa memahami dan membantu memberikan perlakuan yang tepat.

3. Latih anak bersosialisasi

Bawa anak ke dalam lingkungan sosial yang mampu menerimanya. Ajarkan anak untuk berinteraksi dan memperhatikan orang lain, ajarkan anak untuk berkomunikasi dengan orang lain. Libatkan anak dalam kelompok bermain untuk menumbuhkan kesadarannya akan orang lain.

4. Berikan perhatian dan kasih sayang yang lebih

Kasih sayang dari orang tua sangatlah utama. Anak hiperaktif perlu diberikan kasih sayang yang lebih agar dia percaya diri, merasa aman dan nyaman dengan orang tuanya dan mau mendengarkan kata kata orang tuanya.

5. Berikan jadwal yang tepat

Beritahukan jadwal harian anak dan latih untuk melaksanakannya dengan rutin. Jangan lakukan perubahan jadwal kegiatan terlalu sering. Modifikasi pada jadwal harian bisa dilakukan jika dibutuhkan. Dengan pemberian jadwal harian ini anak menjadi lebih teratur untuk menggunakan tenaganya. Rutinitas pada jadwal yang ada juga membatasi anak untuk melakukan hal lain yang mungkin tidak sesuai.

6. Pilih gaya belajar yang tepat

Pahami kemampuan anak dalam menerima informasi. Apakah anak lebih cepat menerima informasi  dengan mendengar, membaca, menggambar, atau bermain yang sifatnya motorik. Pahami kemampuan lebih anak dalam hal menerima informasi dan perkuatlah hal tersebut sebagai cara belajar yang efektif. Misalnya jika anak lebih tertarik dengan coretan atau warna, maka gunakan teknik pembelajaran dengan menggambar.

7. Kenali bakat anak

Anak dengan hiraktif atau autisme memiliki kecenderungan pertumbuhan kognitif yang lambat. Kemampuan berkomunikasi dan proses menerima informasi juga lambat. Namun bukan berarti mereka itu anak bodoh dan tidak mampu melakukan apapun. Anak hiperaktif dan autis juga memiliki kelebihan tertentu yang jika dikembangkan akan menjadi kemampuan yang luar biasa.

Penting bagi orang tua untuk mencari tahu bakat dan kemampuan anak misalnya dalam bidang musik, teknologi, seni atau lainnya. Jika bakat anak sudah ditemukan, pastikan anak menekuni hal tersebut sehingga bakatnya akan menjadi luar biasa.

8. Jangan menghukumnya

Nada tinggi atau hukuman untuk anak autisme atau hiperaktif akan mengganggu kemampuan mereka untuk berkembang. Pada anak normal, hal semacam ini mungkin hanya sebuah pelajaran yang nantinya tidak terlalu dipikirkan, karena komunikasi antara anak dengan orang tua tidak ada kendala.

Namun pada anak hiperaktif terlebih hiperaktif autis, ketika hati mereka sudah tersakiti atau  ketakutan, hal ini akan sulit  diperbaiki dan akan mengganggu tumbuh kembang mereka.

9. Sering berkomunikasi dengan anak

Orang tua harus terus aktif mengajak anak berkomunikasi dan jangan terlalu membedakannya dengan orang lain. Hal ini penting untuk menstimulus kemampuan berbicara pada anak dan kemampuan merespon lawan bicara.

10. Latih anak untuk menenangkan diri

Adakalanya anak menjadi lebih hiperaktif karena suatu stimulus yang tidak menyenangkan. Ajarkan anak untuk duduk diam tarik nafas dalam berulang kali sampai anak tenang kembali. Ajarkan hal ini sejak awal dalam bentuk interaksi yang menyenangkan sehingga ketika anak berada dalam kondisi tertentu yang tidak nyaman, anak bisa mempraktekkannya sesuai yang biasa dia lakukan.

Nah moms, tak ada yang sulit jika kita mau bersabar dan terus ikhtiar bukan? Jika Anda terus melatihnya, mengajari dan merawatnya dengan tepat bukan mustahil dia akan menjadi 'sesuatu' di masa depan. Tak ada yang tak mungkin di dunia ini. So, tetap semangat moms! [Tri]

astaga keluarga anak orangtua anak hiperaktif mom & kids mendidik 10 cara