10 Cara Mengatasi Anak Tantrum di Tempat Umum

Nyaris semua ibu pernah merasa stress menghadapi anaknya yang tengah tantrum.

freepik

Nyaris semua ibu pernah merasa stress menghadapi anaknya yang tengah tantrum. Apalagi jika tantrum itu terjadi ketika sedang berada di luar rumah atau tempat-tempat umum atau di saat ibu sedang disibukkan oleh sesuatu, maka tekanan yang dirasakan oleh ibu pasti akan semakin berat.

Tantrum biasanya terjadi pada anak usia 1-4 tahun dan hanya berlangsung sekitar 2 menit. Ketika kemampuan verbal dan kontrol fisik seorang anak sudah semakin membaik, sifat atau perilaku tantrum ini akan mereda dengan sendirinya.

Namun,  tantrum tak bisa dibiarkan. Orangtua harus mengajarkan anak tentang bagaimana mereka harus belajar mengontrol diri dan mengatasi gejolak emosi mereka. Jika hanya melakukan pembiaran dan bahkan menuruti setiap tuntutan anak, maka dampak ke depannya anak akan tumbuh menjadi pribadi yang egois.

Nah moms, begini caranya mengatasi anak tantrum di keramaian atau di tempat umum.

1. Cari tahu penyebab anak-anak menjadi tantrum

Anak-anak cenderung mudah marah ketika mereka lapar, sakit, bosan, kelelahan, atau frustrasi. Buatlah catatan  perilaku keseharian anak, dan kemudian pelajarilah catatan tersebut. Kita bisa mengetahui kapan anak cenderung mudah marah, apa penyebabnya, kapan saja anak bisa tidak marah dan menurut, kondisi emosinya saat ia sakit atau kelelahan, dan lain sebagainya.

Dari catatan itulah nantinya kita bisa mencari jalan untuk menghindari atau meminimalisir terjadinya tantrum. Bagaimanapun, menghindari penyebab tantrum itu lebih mudah daripada menghadapi ledakan tantrum anak.

2. Perhatikan gejala awal anak tantrum

Biasanya, sebelum anak benar-benar 'meledak', mereka akan menunjukkan tanda-tanda seperti gelisah, rewel atau merengek. Mereka tampak tidak sabar menyelesaikan sesuatu, membuang apa yang ada di tangannya, menarik napas dalam-atau perubahan mimik wajahnya. Bila tanda-tanda semacam ini sudah mulai terlihat, segera berikan pertolongan pertama yaitu alihkan perhatiannya.

3. Alihkan perhatiannya

Mengalihkan perhatian anak agar tidak tantrum yaitu dengan cara 
merperlihatkan sesuatu yang dapat menarik perhatiannya. Misalnya mengajaknya bernyanyi atau ajak anak melakukan hal seru yang ia sukai, membeli makanan kesukaannya, dan lain-lain.

4. Pindah ke lokasi yang lebih sepi

Anak-anak cenderung suka melempar apa yang ada di sekeliling mereka atau berguling-guling di lantai saat mereka tantrum. Maka giring anak ke tempat yang lebih aman dan cukup terlindung dari penglihatan orang banyak. Biarkan anak melampiaskan emosinya sesaat sampai reda. Awasi anak agar dia tidak melakukan hal yang membahayakan.

5. Beri pelukan

Saat anak meledak, apalagi saat di keramaian, pelukan ibu adalah tempat teraman bagi seorang anak. Biarkan anak menangis dan peluk erat si buah hati. Orang di sekitar Anda mungkin terganggu, tapi abaikan perasaan malu dan tidak enak itu. Itu wajar, dan setiap anak wajar mengalami tantrum. Yang tidak wajar adalah meninggalkan anak pergi saat tantrum.

6. Jangan menyerah dan menuruti apa yang diinginkan anak

Anak-anak seringkali menangis atau mengamuk sebagai senjata agar permintaannya dipenuhi orangtua. Mereka  merasa dengan menangis kuat, Anda akan luluh dan memberikan apa yang mereka mau. Maka, cobalah untuk tenang dan abaikan kemarahannya. Jika Anda nampak ingin marah dan mulai tersulut emosi, cobalah menenangkan diri.

7. Jangan tertawakan anak yang sedang tantrum

Jangan mentertawakan anak yang sedang tantrum. Jangan sampai membuat mereka beranggapan bahwa marah itu lucu dan bukan kesalahan. Memang kadang lucu melihat ekspresi anak yang tengah tantrum, apalagi jika tantrum sambil bicara. Tapi tahan tawa Anda ya moms. Karena ketika Anda tertawa, dia akan semakin menjadi.

8. Jangan respons keinginan anak sampai ia berhenti tantrum atau berteriak

Anak-anak harus belajar bahwa setiap keinginan harus disampaikan dengan baik, bukan dengan marah, berteriak, dan menangis. Anak-anak harus tahu bahwa orangtualah yang memegang kendali, bukan mereka. Dalam artian, mereka boleh mengungkapkan keinginan dengan cara yang baik. Namun tidak semua keinginan mereka harus dipenuhi. Inilah sikap yang seharusnya dimiliki oleh orangtua. Kita, orangtualah yang harusnya bisa mengendalikan anak, bukan anak-anak yang mengendalikan kita.

9. Ajak anak bicara setelah tantrumnya reda

Kita wajib menentramkan hati anak dan memberikan mereka pengertian tentang sikap-sikap yang baik dan mengajari mereka cara mengungkapkan keinginan mereka dengan baik. Jika kita hanya membiarkan saja, tanpa memberikan mereka pengertian bahwa apa yang mereka lakukan itu salah, maka semua cara di atas akan sia-sia. Anak-anak tidak akan belajar dari pengalaman dan akan menganggap bahwa tangisan dan kemarahan mereka adalah hal yang biasa. Ajaklah mereka untuk mengatasi dan mengolah emosi mereka menjadi lebih baik.

10. Tahan emosi

Meski anak-anak tampak sangat menjengkelkan ketika tantrum, tahan emosi ya moms. Jangan sampai melakukan kekerasan fisik maupun verbal seperti menghardik dan memaki, apalagi di tempat umum. Disinilah kesabaran Anda si uji. Tarik napas dalam-dalam lalu  biarkan anak melampiaskan emosinya. Dengan kesabaran, diharapkan anak akan malu dan mulai muncul rasa bersalahnya.

Ingat ya moms, baik buruknya anak, mereka adalah buah hati tercinta, yang dinantikan kehadirannya, dirindukan senyum dan kekeceriaannya. Maka perlakukan mereka dengan penuh kasih sayang. Saat moodnya sedang bagus, bicarakan tentang buruknya perilaku tantrum, beri dia pemahaman bahwa meluapkan emosi secara berlebihan hanya akan membuatnya nampak buruk dan tidak menyenangkan. Jangan lupa ajarkan dia untuk selalu tersenyum dan bersyukur. [Tri]

astaga mom&kids tantrum anak edukasi ibu ibu&anak