Tren Investasi Kelas Menengah, Mempengaruhi Laju Bisnis Properti

Meski diterpa isu menurunnya daya beli masyarakat, namun tidak berdampak signifikan terhadap dunia properti.

Meski diterpa isu menurunnya daya beli masyarakat, namun tidak berdampak signifikan terhadap dunia properti. Sebaliknya,  bisnis properti justru berpeluang untuk membaik. Selain indikator makro berupa suku bunga acuan yang turun serta tabungan masyarakat di bank yang naik, tercatat kenaikan tren pencarian melalui internet.

“Meskipun suku bunga acuan BI tidak secara langsung berpengaruh, itu indikator yang baik. Apalagi ada isu loan to value juga akan direlaksasi lagi. Dana pihak ketiga di bank yang naik juga menjadi peluang ke depan masyarakat akan membelanjakannya untuk properti. Saya optimis properti membain karena indikatornya semakin banyak,” kata Country General Manager Rumah123.com, Ignatius Untung dalam jumpa pers. Suku bunga acuan Bank Indonesia 7-Day Reverse Repo turun 0,25 persen menjadi 4,5 persen. 

Selain indikator makroekonomi, ia juga melihat data internal dari situs Rumas123.com yang mengalami tren kenaikan. Dari data sekunder tersebut, tercatat tren pencarian pada semester1/2017 naik 64,95 persen dibandingkan dengan semester sebelumnya. Sementara dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, pencarian tumbuh 48,3 persen.

Selain pencarian rumah atau hunian, Rumah123.com juga mencatat, pengajuan kredit pemilikan rumah (KPR) didominasi oleh mereka yang berusia 30-39 tahun. Dari rentang uusia tersebut, 16,47 persen diantaranya berpenghasilan Rp 5 juta hingga Rp 9 juta per bulan dengan plafon kredit maksimal Rp 250 juta.

Sementara itu, perkembangan menarik lainnya, kini ada ada tren mereka yang berpengasilan besar melakukan pembelian properti di segmen kelas menengah. Tercatat 5,72 persen konsumen yang berpenghasilan di atas Rp 50 juta per bulan mengajukan kredit hanya maksimal Rp 250 juta. Kemungkinan mereka merasa lebih aman berinvestasi di segmen menengah ke bawah sembari menunggu kondisi ekonomi dan properti membaik.

“Maka selain bergantung pada indikator dari data sekunder yang sudah mengarah ke perbaikan sektor properti, juga sangat diperlukan sentimen positif serta kepercayaan dari masyarakat,” tandasnya. Hal ini untuk tetap menstabilkan kondisi positif di bisnis properti. (Editor: Maria L. Martens)

astaga wanita wanita karir investasi properti bisnis keuangan