Strategi Survive Properti di Tengah Melemahnya Daya Beli

Biaya kebutuhan hidup yang merangkak naik, disebut sebagai penyebab keputusan masyarakat meletakan investasinya pada mata uang asing atau produk perbankan lainnya, ketimbang properti.

Biaya kebutuhan hidup yang merangkak naik, disebut sebagai penyebab keputusan masyarakat meletakan investasinya pada mata uang asing atau produk perbankan lainnya, ketimbang properti. Demikian penilaian Marx Andryan dari Marx & Co.

Ia menyimpulkan bahwa, dampak dari turunnya minat masyarakat untuk membeli produk properti mengakibatkan para pelaku usaha di bidang properti mengalami kesulitan untuk menjual produknya, sehingga mengakibatkan gagal bayar (non-performing loan).

Dalam penyaluran kredit kepada masyarakat khususnya para pelaku bisnis, kadang timbul persoalan saat debitur yang memiliki kemampuan bayar yang rendah dan tidak berpengalaman dalam mengelola plafon fasilitas kredit, kesulitan melakukan pembayaran cicilan dan bunga yang terus bertambah, akibat perubahan kondisi ekonomi global dan nasional yang tidak menentu.

Di pihak lain, para pengembang juga mengalami kondisi yang sama untuk melakukan pembayaran kredit dan bunga kepada pihak pemberi yaitu bank maupun lembaga keuangan lainnya. Karena sumber pembiayaan properti pelaku usaha, juga merupakan pinjaman dari bank atau lembaga keuangan lainnya, yang memiliki jangka waktu tertentu untuk dilunasi.

Lazimnya pihak kreditur mendesak pihak kreditur untuk menyelesaikan pembayaran kredit tersebut, jika tidak bisa mencari penyeleasaian maka berakibat pada sengketa berupa penyitaan atau proses peradilan. Marx Andyran pun menegaskan, sebaiknya pihak kreditur mengantisipasi hal tersebut  dengan mengambil langkah-langkah hukum untuk menghadapi pihak kreditur, atau memilih pihak mediator untuk menyelesaikan masalah, sehingga terjadi win-win solution bagi kedua belah pihak. (Editor: Maria L. Martens)

astaga wanita properti investasi