Makin diminati Investor Asing, Kawasan IndustriLuar Jawa Terus Dikembangkan

Investor China, serius minati kawasan industri di wilayah Kalimantan Utara. Meski provinsi ini terbilang baru, namun kekayaan lokal menarik perhatian investor asing.

Kementerian Perindustrian pun, fokus mengembangkan wilayah industri di luar pulau Jawa untuk menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru. Hal ini dilakukan untuk mendrong investor masuk kawasan industri yang ditetapkan dalam proyek strategis nasional.

Hal itu disampaikan direktur Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri Kementerian Perindustrian Imam Haryono di Jakarta. “Ada investor dari China yang berinvestasi di kawasan industri Morowali ingin mengembangan industri di Kalimantan Utara,” kata Imam.

Investor industri nikel dari China, Tsingshan Holding Group, dalam tiga tahun terakhir sudah berinvestasi di kawasan industri Morowali, Sulawesi Tengah, dengan nilai investasi sekitar 817 juta dollar AS atau sekitar Rp 10,86 trliun.

Menurut Imam, perusahaan itu juga ingin berekspansi ke kawasan industri Tanah Kuning, Kalimantan Utara (Kaltara), dengan nilai investasi sekitar 22 miliar dollar AS. Tsingshan berminat mengembangkan investasi di Kaltara antara lain karena ketersediaan energi primer untuk pembangkit listrik tenaga air. Jika investasi ini terealisasi, diharapkan efek ganda perekonomia di daerah terjadi dan menumbuhkan perekonomian di daerah perbatasan.

Imam menjelaskan, Program Nawacita Presiden Joko Widodo diterjemahkan Kementerian Perindustrian dengan mendorong pengembangan kawasan industri di luar Pulau Jawa. Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri (HKI) Sanny Iskandar mengungkapkan, pemerintah memang fokus mengembangkan kawasan industri, termasuk di luar Pulau Jawa. Sebagai contoh, kawasan industri Bintuni di Papua Barat.

Pengembangan industri di Bintuni, terutama industri petrokimia, lanjut Iskandar, sangat bergantung pada ketersediaan bahan baku gas dan harga gas. Masalah harga gas untuk pengembangan industri perlu diperhatikan.

Imam menambahkan, sejumlah persahaan, seperti PT Pupuk Indonesia dan Ferrostaal dari Jerman, merencanakan berinvestasi di kawasan industri Bintuni untuk memproduksi pupuk dan produk petrokimia. Namun, kesepakatan harga gas untuk bahan baku masih menjadi pertimbangan investor.

PT Pupuk Indonesia (Persero) berencana berinvestasi pabrik urea dan amoniak dengan nilai investasi 2,2 miliar dollar AS. Adapun Ferrostaal senilai 1,9 miliar dollar AS. Target operasional industri pupuk dan petrokimia tahap pertama, menurut rencana, pada 2019. Sebelumnya, Ketua Kelompok Kerja Pupuk Nasional Dewan Ketahanan Pagan Edy Putra Irawady menilai, harga gas untuk industri pupuk di Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan dengan negara tetangga, seperti Malaysia dan India “Di Malaysia, harga gas bisa 4 dollar AS per MMBTU,” katanya. Di Indonesia, harga gas di atas 5 dollar AS. (Editor: Maria L. Martens)

astaga wanita wanita karir investasi keuangan