Teh Dapat Memicu Kecanduan

"Teh adalah salah satu minuman paling populer di dunia. Ada banyak ragamnya, semuanya berasal dari tanaman Camellia sinensis."

BANYAK senyawa dalam teh yang selalu dikaitkan dengan berbagai manfaat kesehatan, membuat kebanyakan orang menganggap minuman ini sebagai suplemen makanan yang sehat.

Namun, beberapa orang berpikir bahwa senyawa teh tertentu dapat membuat ketagihan, dan minum terlalu banyak akan lebih berbahaya daripada baik.

Jenis teh yang berbeda mengandung jumlah kafein yang berbeda, yang merupakan zat psikoaktif yang paling umum digunakan di dunia. Ini adalah stimulan alami dan paling sering dituduh berpotensi membuat ketagihan.

Kafein sering dicap sebagai zat adiktif karena struktur kimianya mirip dengan senyawa adenosin yang secara alami ada di dalam tubuh, yang melemahkan sistem saraf pusat.

Karena struktur kimianya ini, kafein dapat memasuki reseptor adenosin di otak dan mencegah adenosin mengikatnya. Akibat kekurangan adenosin yang dihasilkan mencegah sel-sel otak mengirim sinyal, yang menandakan bahwa tubuh lelah.

Ini juga menyebabkan tubuh melepaskan lebih banyak stimulan alami lainnya, seperti dopamin, yang selanjutnya menekan kelelahan dan membantu menjaga kewaspadaan.

Ada spekulasi bahwa minum minuman berkafein secara teratur (termasuk teh) dapat menyebabkan sel-sel otak memproduksi lebih banyak reseptor adenosin untuk mengimbangi reseptor yang diblokir oleh kafein.

Seiring waktu, ini berarti membutuhkan teh dalam jumlah yang banyak untuk mengalami efek yang sama dari kafein. Ini juga dapat menyebabkan mengalami gejala penarikan jika tiba-tiba berhenti dari minuman tersebut.

Akhirnya, perubahan kimiawi di otak inilah yang menyebabkan makanan dan minuman berkafein dianggap berpotensi membuat ketagihan.

Kecanduan datang dalam berbagai bentuk tetapi cenderung memiliki beberapa gejala klinis yang sama. Yang paling sering digunakan oleh ahli kesehatan untuk mengenali kecanduan meliputi:

Terus digunakan meskipun mengalami kerusakan

Keinginan yang terus-menerus atau upaya yang gagal untuk mengontrol atau mengurangi penggunaan.

Penelitian menunjukkan bahwa beberapa orang yang secara teratur mengkonsumsi kafein dapat mengalami gejala seperti kecanduan, dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi mengakui ketergantungan kafein sebagai sindrom.

Di sisi lain, American Psychiatric Association (APA) tidak mengklasifikasikan kecanduan kafein sebagai gangguan penyalahgunaan zat.

Saat ini tidak jelas berapa banyak orang yang mengalami gejala seperti kecanduan akibat minum teh. Informasi juga terbatas tentang apakah peminum teh kesulitan mengurangi asupannya.

Oleh karena itu, diperlukan lebih banyak penelitian sebelum kesimpulan dapat dibuat tentang sifat adiktif teh. Masih belum jelas berapa banyak teh yang perlu diminum per hari sebelum berisiko kecanduan.

Kandungan kafein dalam teh tergantung dari varietasnya. Berikut jumlah kafein yang biasanya ditemukan dalam 1 cangkir (240 mL) varietas teh populer: Teh hitam: 35–44 mg, Teh hijau: 33–71 mg, Teh oolong: 37–38mg, Teh putih: 33–48 mg, Teh matcha: 38–89 mg, Yerba mate: 45–67 mg, Teh tanpa kafein: hingga 12 mg, Teh herbal: 0 mg

Berdasarkan angka-angka ini, minum sedikitnya 2–3 cangkir jenis teh tertentu setiap hari mungkin cukup untuk menyebabkan gejala kecanduan fisik, meskipun penelitian lebih lanjut diperlukan sebelum kesimpulan yang kuat dapat dibuat.